TUKANG BECAK NAIK HAJI



                                           TUKANG  BECAK  NAIK  HAJI

Ini adalah sebuah kisah nyata, yang dialami seorang tukang becak. Kebanyakan orang sedekah setelah banyak mendapat rezeki dan menjadi orang kaya, namun tidak demikian dengan seorang tukang becak di sebuah kota. Ia memang miskin, tetapi tidak mau kemiskinan itu, untuk menghalanginya untuk bershadaqah. Shadaqah yang dilakukannya tergolong cukup unik, yaitu menggratiskan penumpangnya pada hari jum’at. 


                Suatu ketika pada hari jum’at, datanglah seorang perempuan dari luar kota menghampiri tukang becak ahli shadaqah tersebut. Dilihat dari penampilan dan dandanannya sepertinya dia orang kaya. Tanpa menanyakan ongkos becak terlebih dulu, perempuan itu naik begitu saja. 


                Setelah sampai ditempat tujuan, penumpang itu memberikan ongkos kepada tukang becak, tapi ditolak secara halus. “ Maaf, saya telah berjanji pada diri saya, jika hari jum’at saya akan menggratiskan. Saya selalu berusaha memegang kuat janji itu,;’ Bu”, jelas si tukang becak sopan. 


              Setelah tukang becak berlalu, penumpang itu diam. Ia penasaran sekaligus kecewa, karena uangnya ditolak. “ Saya akan buktikan hari jum’at mendatang.Saya akan naik becaknya lagi. Apakah ia masih tidak mau menerima ongkos becak? “ gumam si perempuan tadi  dalam hati.


                Seperti yang telah direncanakan , hari jum’at berikutnya ia naik becak yang sama dan mencoba lagi memberi ongkos, tetapi si tukang becak tetap tidak mau menerimanya. 


                Dengan masih diliputi rasa heran, perempuan tadi disadarkan oleh perilaku tukang becak tersebut. Ia menyadari kekeliruan dan kelalaian dirinya yang selalu egois dan tidak pernah memikirkan orang lain, apalagi bershadaqah. 


                Penumpang itu minta diantar kerumah tukang becak. Sesampainya dirumah tukang becak, perempuan itu disambut dengan hangat. Istri tukang becak terlihat ramah dan menghormati tamu yang berkunjung kerumahnya yang sangat sederhana. 


                Sesaat sebelum pulang, penumpang yang kaya tadi berkata kepada si tukang becak. “ Kebiasaan shadaqah yang Bapak lakukan telah menyadarkan saya, sikap egois selama ini. Hidup hanya saya habiskan untuk mengais harta, tanpa sedikitpun memikirkan orang lain yang membutuhkan. Dan akhirnya saya sadar tentang arti hidup ini, dari mana dan hendak kemana kita menuju? “ 


                “ Sebagai tanda syukur kepada Allah, dan tanda rasa terima kasih saya kepada Bapak, izinkan saya mengajak bapak sekeluarga untuk naik haji bersama saya dan keluarga !” ujar perempuan itu dengan mantap.


                Mendengar itu , tukang becak tertegun seolah tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Secara perlahan, ia menitikkan air mata haru penuh syukur. Ternyata doanya selama ini telah dikabulkan oleh Allah. Doa yang selalu ia panjatkan, walaupun secara nalar seorang tukang becak seperti dirinya, tidak mungkin bisa nabung untuk menumaikan ibadah haji. 


                Anugrah tidak terduga bagi tukang becak itu termasuk salah satu bukti kebesaran Allah. Jika Dia menghendaki, tukang becakpun bisa berangkat haji, bahkan dengan gratis.
                Mari kita sebagai hamba Allah, senantiasa berdoa agar bisa  berangkat haji seperti kisah tukang becak. Kalau Allah sudah berkehendak kepada hambaNya  Allah hanya bilang jadilah, maka jadilah seperti kisah tukang becak tadi. 




No comments:

Post a Comment